Pengalaman Naik Bus Damri Dari Jakarta ke Metro Lampung

Pengalaman Naik Bus Damri Dari Jakarta ke Metro Lampung – Cerita ini adalah bagian kedua dari perjalanan panjang saya dari Denpasar (Bali) menuju ke Metro (Lampung) pulang pergi melalui jalur darat, menggunakan bus. Di posting ini saya akan lebih berfokus untuk menceritakan pengalaman perjalanan sekaligus review saat menggunakan bus Damri kelas Executive yang berangkat dari Jakarta, menuju ke Lampung. Dan merupakan lanjutan dari cerita saya sebelumnya.

Setelah melakukan perjalanan panjang dengan waktu tempuh kurang lebih 24 jam dari Denpasar ke Jakarta Selatan menggunakan bus, saya memilih untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Metro, Lampung dengan masih menggunakan bus, di hari yang sama saat sudah menjejakkan kaki di Jakarta. Iya, nggak pake mandi, langsung gas ke Metro 🤣. Gapapa bau, yang penting cepat sampai ke rumah calon mertua 😊.

Kabarnya, hanya ada satu pilihan jika ingin naik bus dari Jakarta ke Lampung. Yaitu dengan menggunakan bus Damri. Jadwal keberangkatan bus menuju kota Metro yang saya dapatkan adalah pukul 19.00 WIB di kelas Executive. Yang saat itu dibanderol dengan harga 255.000 rupiah. Sebenernya sih, saya ingin mengambil yang kelas Bisnis supaya murah. Akan tetapi, ternyata tiketnya sudah keburu habis pada saat saya memesan tiketnya via online apps Damri, dua hari sebelumnya.

Tapi yasudahlah. Toh saya jadi punya bahan review perbandingan bus Damri kelas Executive dengan kelas Bisnis (yang saya tumpangi saat pulang dari Metro ke Jakarta).

Stasiun gambir Damri

Rintik hujan terus membasahi Stasiun Gambir saat saya tiba di sana pada jam setengah 3 sore WIB. Saya mengikuti petunjuk arah yang ada disana untuk menemukan lokasi loket bus Damri di Gambir. Saya kemudian bertanya pada seorang (yang sepertinya) calo, sebelum berhasil sampai ke loket.

Saya hampiri loket tersebut dengan maksud untuk menanyakan perihal tiket yang sudah saya pesan via online apps. Mbak-mbak petugas loket yang cantik itu meladeni saya dengan ramah, walau saya belum mandi dan sikat gigi sejak kemarin. Ia pun mencetak tiket setelah saya menunjukkan e-ticket pada smartphone Zenfone 3 kesayangan saya.

Pengalaman naik damri dari jakarta ke lampung

Saya duduk sejenak pada kursi yang tersedia, dengan maksud menunggu hingga waktu keberangkatan tiba. Tapi, sepertinya masih terlalu lama. Saya memutuskan beranjak untuk mencari makan walau sebenarnya belum lapar. Ya maksudnya sih supaya badan tetap fit saat perjalanan nanti. Sekaligus agar waktu bisa terasa berjalan lebih cepat.

Rintik hujan telah berhenti, namun keberangkatan masih kunanti. Satu-satunya hiburanku adalah memandangi antrean calon penumpang taxi. Yang datang dan pergi silih berganti, di dekat parkiran bus Damri.

Jakarta Lampung naik bus Damri Executive

Menurut saya, para petugas yang ada disini tergolong kurang komunikatif. Sehingga bisa membuat para calon penumpang pemula menjadi bingung. Saya hampir saja menitipkan bagasi koper di bus yang salah. Karena petugas yang mengecek tiket hanya bilang “itu, yang disebelah sana” saat saya bertanya bus mana yang harus saya naiki. Untungnya, saya rajin bertanya.

Bus Damri kelas Executive ini punya interior yang bersih dan nyaman. Dengan space kaki yang sangat lega. Namun bagi kamu yang punya ukuran badan jumbo, disarankan untuk memilih Damri Royal Class agar dapat duduk dengan nyaman.

Damri Jakarta Lampung kelas Eksekutif

Kami diminta untuk naik bus saat waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Namun bus baru bergerak tepat satu jam setelahnya.

Bungkusan snack dibagikan kepada para penumpang segera setelah bus mulai berjalan. Awalnya semua terasa normal. Namun sekitar satu jam setelahnya, barulah AC bus mulai terasa sangat dingin. Padahal, saya sudah memakai jaket hoodie. Jadi saran saya, jika ternyata kamu ingin naik bus Damri kelas Executive, sebaiknya pastikan kamu sudah melengkapi diri dengan pakaian yang hangat.

Temperatur yang amat dingin ini membuat saya hanya tidur saja, sampai tiba di pelabuhan. Saya tak tau berapa lama bus harus menunggu untuk naik ke kapal. Karena ketika membuka mata, bus sudah mulai parkir di dalam kapal sekitar jam 23.20 WIB.

Ini adalah pertama kalinya saya naik kapal di selat Sunda untuk menuju ke Lampung. Dan ternyata, kapalnya cukup jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal yang biasa ditemukan di selat Bali. Deck untuk mengangkut kendaraan saja ada dua tingkat. Deck bawah untuk kendaraan angkut berat seperti truck dan bus, dan deck atas untuk mengangkut kendaraan pribadi roda empat.

Ruang untuk penumpang kalau tidak salah juga ada dua tingkat diatas deck. Jika tak ingin terkena angin laut, saya sarankan bagi anda untuk segera mengamankan kursi penumpang di dalam ruangan. Karena terpapar angin malam selama waktu tempuh penyeberangan yang mencapai satu setengah jam tentu kurang baik bagi kesehatan.

Eh, tapi AC di dalam ruangan kapal yang saya naiki kemarin itu juga dingin sih. Jadi ya serba salah juga 😌. Oh iya, bagi kamu yang ingin ngopi atau makan popmie, diluar ruangan ada beberapa pedagang yang standby.

Berlabuh di Lampung

Bus langsung melaju setelah kapal sampai di pelabuhan Bakauheni Lampung. Saya kembali memejamkan mata karena temperatur dingin dari AC bus yang membuat saya tak bisa menikmati perjalanan.

Lalu, ini yang menarik …

Dalam keterangan pada Damri apps, disebutkan bahwa kita akan mendapatkan fasilitas “Rest Area” dengan icon piring dan garpu. Memang benar, bus akan berhenti pada sebuah spot untuk istirahat sejenak. Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Dan setidaknya ada dua rumah makan yang saya lihat di sana. Salah satunya adalah rumah makan Siang Malam.

Rumah makan Siang Malam Lampung

Saya keluar bus, dan hal pertama yang saya lakukan adalah mencari toilet. Setelah selesai, saya melihat sekeliling, dan kemudian bingung.

“Ini kok orang-orang pada berpencar ya? Ada yang kesana, ada yang kesono. Ada juga yang cuma duduk-duduk diluar …” 🤔

Karena penasaran, saya pun masuk ke rumah makan Siang Malam, dan langsung disambut oleh seorang penjaganya. Dengan bingung, saya pun bertanya: “Makannya Damri disini?”

Ia kemudian menjawab dengan jawaban yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan saya: “Ayo, silakan makan. Kami akan layani ..” “Mau makan mas? Berapa orang?”.

“Sendiri aja ..” Jawab saya dengan lugunya. Saat itu juga saya langsung digiring ke tempat duduk yang kosong dan kemudian mereka mulai menyajikan makanan ala rumah makan padang di meja saya.

Jatah makan Damri Jakarta Lampung

Dari sini saya sudah mulai tersadar sekaligus curiga. “Wah, kok nggak dijatah ya? 🤔 Atau jangan-jangan … 😰”. Dengan sangat hati-hati saya hanya mengambil dua lauk saja, yaitu rendang sapi (wajib dong) dan juga telur dadar kentang.

Telur dadar kentang nya enak, dan saya suka. Sedangkan rendangnya, oke sih. Bumbunya terasa kuat, hanya saja dagingnya alot. Di depan meja saya ada sepasang (yang sepertinya) kekasih yang nampak gembira menikmati hidangan yang ada. Namun kemudian, raut wajah mereka mendadak berubah setelah orang yang makan di meja sebelah saya dibuatkan tagihan dan kemudian membayar makanannya.

“Tuh kan! Ah siyal, aku terkecoh! 😣” Pikirku dalam hati. Mungkin itu juga yang ada di pikiran sepasang (yang sepertinya) kekasih itu, hingga membuat ekspresi mereka berubah seketika.

Saya merasa demikian karena mengira, semua ini adalah bagian dari fasilitas yang diberikan oleh Damri. Dengan kata lain, saya kira ini semua gratis. Seperti jatah makan yang biasa saya dapat saat naik bus lain ketika dalam perjalamam menuju ke berbagai penjuru Pulau Jawa. Tapi ternyata tidak, Ferguso! Yaa, untung sudah sempat curiga, dan hanya mengambil dua lauk saja.

Buat yang belum tau, penyajian di rumah makan padang yang sebenarnya adalah dengan meletakkan semua menu yang mereka punya, diatas meja kita. Persis seperti yang saya fotokan diatas. Dan kita harus membayar apa yang kita ambil. Walau misalnya kita hanya mengambil satu potong rendang di dalam piring yang ternyata berisi dua potong rendang, maka kita harus membayar dua potong rendang tersebut.

Yah, kena deh 43.000. Wkwkwk. Tapi salahku juga sih, kenapa nggak tanya ke kru bus nya ya? Yoweslah. Maklum lah, ini pengalaman pertama saya naik bus dari Jakarta ke Lampung. Wkwkwk.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Dan beberapa penumpang mulai turun di tujuan mereka masing-masing. Ada yang turun di pool (garasi), terminal, ada juga yang di pinggir jalan. Kami tiba di pool Metro sekitar pukul 05.10 WIB. Dan saya pun kemudian turun dan disambut oleh beberapa tukang becak dan ojek yang menawarkan jasa mereka.

Jadi, lama perjalanan dari Jakarta ke Metro lampung menggunakan bus Damri adalah sekitar 10 jam. Waktu tempuh tersebut bisa lebih cepat sekitar satu jam jika kamu turun di Bandar Lampung dan sekitarnya. Itulah pengalaman saya naik bus Damri ke Lampung dari Jakarta. Semoga bermanfaat 😁

Mas Pandu
Suka foto, tapi agak kurang narsis | Pengagum alam, tapi bukan alay | Also known as Mas Bocah