Home Jakarta Ternyata Begini Ya Capeknya Jadi Pekerja di Jakarta

Ternyata Begini Ya Capeknya Jadi Pekerja di Jakarta

0

Ternyata Begini Ya Capeknya Jadi Pekerja di Jakarta – Ide cerita ini muncul secara spontan uhuyyy setelah aku menghadiri undangan event salah satu operator seluler Indonesia yang diselenggarakan di kota Jakarta. Tepatnya di Plaza Senayan, yang dimulai pada jam 10.30 pagi.

Ini bukan yang pertama kali aku datang ke Jakarta. Karena aku sudah bolak-balik ke kota yang amat sangat padat ini untuk menghadiri berbagai event. Tapi, kali ini aku merasakan atmosfer yang berbeda. Merasakan pengalaman yang tak biasa aku rasakan saat akan menghadiri sebuah event. Namun sepertinya justru inilah yang setiap hari dirasakan oleh para pekerja di Jakarta.

Biasanya, aku akan menginap di penginapan murah macam Airy Rooms minimal sehari sebelum event. Dan aku akan mencari lokasi yang berdekatan dengan tempat diselenggarakannya acara agar aku bisa lebih cepat dan lebih santai saat menuju ke lokasi. Kalau penyelenggaranya baik dan lebih siap, terkadang aku akan mendapat fasilitas yang jauh lebih baik daripada itu.

Suka duka kerja di JakartaSemua hal, termasuk akomodasi hingga hotel, sudah disiapkan. Aku tinggal naik pesawat menuju Jakarta, lalu dijemput di bandara dan langsung dibawa menuju hotel bintang lima atau empat seperti Grand Mercure misalnya. Tapi sekali lagi, pengalaman kali ini sungguh berbeda.

Perencanaan event yang kurang baik, konfirmasi info yang serba dadakan, ditambah dengan budget transportasi yang nge-press banget membuatku tak bisa menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan kenyamanan, seperti yang biasa kulakukan sebelumnya. Dan yah, sebelumnya ada sedikit drama yang cukup mengesalkan juga, yang sudah ku ceritakan pada posting soal perjalananku naik bus dari Jakarta ke Bali.

Tapi dari kejadian ini, aku jadi bisa ikut sedikit merasakan bagaimana rasanya kerja di Jakarta. Karena selama perjalanan menuju ke lokasi diselenggarakannya event, aku dan kawan-kawan menggunakan pola atau alur perjalanan yang juga biasa digunakan oleh para pekerja untuk sampai ke kantornya.

Enak Nggak Kerja di Jakarta?

Bekerja di JakartaSalah satu alasan kenapa orang memilih untuk bekerja di Jakarta adalah karena ingin mencicipi luasnya kesempatan yang dijanjikan oleh kota ini. Tak bisa dipungkiri bahwa kota ini memang sangat menarik bagi mereka yang punya ambisi. Banyak kisah orang sukses setelah mengadu nasib disini. Iming-iming standar gaji besar pun juga menjadi daya tarik terbesar yang berhasil mendatangkan banyak sekali perantau dari berbagai wilayah.

Namun, apa yang kamu dengar tersebut adalah bagian manisnya saja. Karena pada kenyataannya, ada cukup banyak sisi yang tak terungkap. Tenggelam diantara gemerlap kota Jakarta.

Banyak Waktu Terbuang di Perjalanan

Bukan rahasia lagi kalau di Jakarta itu adalah sarangnya macet. Hal ini juga sudah kurasakan sendiri sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota ini. Bisa dibilang, waktu tempuh di kota ini sama dengan tiga kali lebih lama dibanding waktu tempuh di kota lain. Atau bisa lima kali lebih lama dibandingkan dengan daerah yang punya sedikit kendaraan di jalanannya. Hambatannya bukan cuma macet, tapi jalannya pun ribet.

Misal, jika kita harus menyeberang ke gedung sebelah yang jaraknya sekitar 200 meter, kita harus jalan memutar dan menempuh jarak yang bisa tiga sampai 4 kali lebih jauh dari jarak yang seharusnya.

Menggunakan moda transportasi umum adalah pilihan yang sangat efektif bagi para pekerja di Jakarta. Khususnya bagi mereka yang tinggal jauh dari kantor tempatnya bekerja. Termasuk diantaranya adalah Bus Transjakarta, KRL, ataupun MRT. Pilihan tranportasi tersebut adalah cara tercepat untuk bisa menembus padatnya lalu lintas di Jakarta. Dan juga lebih murah tentunya.

Suasana transportasi umum JakartaNah, perjalanan untuk menghadiri undangan event yang kusebutkan di awal tadi juga menggunakan moda transportasi umum. Mulai dari kereta bandara (Railink), hingga MRT. Dan dari sinilah aku bisa merasakan atmosfer yang dirasakan oleh para pekerja di Jakarta saat menuju ke kantornya.

Aku bisa merasakan lelah, jenuh, dan sekaligus stress dalam perjalanan tersebut. Dari bandara, aku langsung bergerak menuju ke senayan pada sekitar jam 8 WIB. Perjalanan menggunakan kereta bandara + MRT memang bebas macet dan bisa dibilang sangat lancar. Tapi kamu tau? Aku baru bisa sampai ke tempat sekitar dua setengah jam setelahnya. Iya, hampir telat.

Oke, bagi mereka yang tinggal di Jakarta, mungkin waktu tempuh menuju ke kantor bisa berbeda-beda. Karena pilihan transportasinya lebih banyak sehingga bisa memilih rute yang lebih cepat. Tapi yaa, itu tuh gambaran betapa banyak waktu yang harus terbuang untuk perjalanan saja. Pun juga, perjalanan terasa cukup melelahkan bagi kami yang tidak terbiasa tinggal di Jakarta.

Kami harus menunggu kereta, berjalan ke stasiun, terkadang harus berlari demi mengejar jadwal kereta. Kami masih untung, karena kami naik kereta bandara yang mana kami tak harus berdesak-desakan. Sementara para pekerja yang biasanya naik KRL? Jangan ditanya bagaimana padatnya kondisi di stasiun, khususnya di jam berangkat dan pulang kerja.

Para pekerja di JakartaIya, aku melihat situasi itu hampir di setiap kali kereta kami transit di beberapa stasiun. FYI, foto diatas ini adalah gambaran saat calon penumpang kereta sedang sepi. Aku juga melihat bagaimana seakan tidak ada kegembiraan atau bahkan sekadar senyum pada tiap wajah mereka yang menantikan kedatangan kereta. Bagaimana wajah-wajah itu terlihat letih dan jenuh. Kalau aku berada di posisi mereka, mungkin aku akan merasakan hal yang sama.

Lalu, bagaimana kalau naik alat transportasi pribadi? Sepertinya nggak jauh beda lelahnya. Pertama, kondisi lalu lintas yang super padat tentu bakal menuntut pengendara untuk lebih fokus, serta lebih sering melakukan manuver. Sehingga energi akan terkuras disana. Kedua, belum lagi soal cuaca yang harus dihadapi para pengguna sepeda motor.

Bagiku, mentari di kota ini terasa lebih menyengat. Udaranya juga tidak segar. Belum lagi soal radiasi panas dari mesin kendaraan lain yang berdekatan. Untuk yang lokasi tinggalnya dekat dengan kantor sih masih oke lah. Tapi kalau ternyata cukup jauh… Udah, naik transportasi umum aja! Lebih hemat, cepat, lebih santuy, sekaligus mengurangi padatnya lalu lintas Jakarta.

Sulit Menemukan Tempat Tinggal Yang Layak

Ketika menjejakkan kaki di Jakarta, kamu akan menyaksikan hutan beton dalam bentuk gedung-gedung yang menjulang tinggi. Tidak sedikit dari gedung tersebut yang terlihat mewah. Plaza Senayan, yang menjadi lokasi tujuan kami pun demikian. Bangunan yang begitu luas, lantai berhiaskan marmer, serta desain bangunan yang menarik, sudah cukup untuk menampilkan sedikit kesan mewah.

Suasana kota Jakarta

Namun semua itu berbanding terbalik dengan tempat tinggal yang tersedia di sekitaran Jakarta. Oke, mungkin bagi mereka yang berduit, bisa saja mereka membeli hunian yang layak. Tapi, bagi pekerja biasa yang notabene adalah rakyat jelata? Tentu akan lebih memilih termpat semacam kos-kosan.

Aku pernah mampir ke kosan beberapa teman yang ada di Jakarta. Dan rata-rata, menurutku sangat kurang nyaman untuk dihuni. Kamar sempit, lorong sempit, berbagi kamar mandi, nampaknya adalah hal yang standar disana. Itupun harga sewa kos nya sudah tergolong cukup mahal. Ada sih beberapa lokasi yang menyediakan tempat tinggal yang lebih layak huni. Tapi kurasa jumlahnya tidak lebih banyak dibanding dengan tempat yang tak layak huni.

Aku jadi bisa membayangkan. Perpaduan antara sumpeknya tempat tinggal dan juga lelahnya perjalanan saja sepertinya sudah cukup untuk membuat jenuh. Apalagi jika mungkin ditambah dengan suasana kantor yang bisa saja kurang nyaman. Tapi mungkin itu hanyalah sebagian kecil dari suka duka kerja di Jakarta.

Karena bisa jadi ada banyak hal lain yang belum aku ketahui dan tak bisa aku tuliskan disini. Buat kamu yang sudah bekerja dan tinggal di Jakarta, apakah kamu setuju dengan tulisan ini? Atau, kamu punya pendapat lain? Jangan sungkan untuk berkomentar ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here