Home Info Lainnya Ada Apa Dengan Maskapai Garuda Indonesia?

Ada Apa Dengan Maskapai Garuda Indonesia?

0

Ada Apa Dengan Maskapai Garuda Indonesia? – Kalau kamu mengikuti perkembangan di social media, kamu pasti tau bahwa saat ini para netizen sedang ramai membicarakan soal maskapai penerbangan kebanggaan kita yaitu Garuda Indonesia. Bahkan kemarin (sehari sebelum posting ini di publish), topik “Garuda” sempat menjadi trending topic di twitter.

Kebanyakan dari mereka ramai membicarakan soal peraturan baru yang dikeluarkan tanggal 14 Juli 2019 yang isinya kurang lebih adalah larangan bagi para penumpang untuk mendokumentasikan segala kegiatan yang terjadi di kabin pesawat Garuda Indonesia. Baik berupa foto, maupun video.

Berikut adalah edaran pengumuman yang ramai dibicarakan tersebut (yang sekarang sudah dicabut dan diperbolehkan untuk mengambil foto maupun video):

Larangan berfoto di dalam pesawat garudaWell, sebelum topik tersebut ramai dibicarakan oleh netizen, sebenernya aku sendiri sudah berniat untuk membuat postingan ini. Hanya saja topiknya agak sedikit berbeda. Yaitu soal perubahan kebijakan makanan yang disajikan pada saat penerbangan menggunakan Garuda Indonesia.

Jadi yaudah kita gabung aja sekalian bahasannya disini karena sepertinya memang ada hubungannya. Aku pribadi pun juga merasa ada yang kurang beres di tubuh maskapai kebanggaan rakyat Indonesia ini.

NOTE: Beberapa bagian dari tulisan ini merupakan opini pribadiku dan sama sekali nggak ada maksud untuk menjelekkan pihak tertentu. Jadi tolong gausah baperan apalagi ngamuk.

Ada Apa Dengan Garuda Indonesia?

Jadi kemarin itu kan aku sempat bahas soal syarat untuk dapat makanan berat saat naik pesawat Garuda Indonesia. Tapi kok ya di postingan yang masih belum sebulan publish itu sudah ada yang komentar kalau mereka nggak dapet makanan berat seperti dulu lagi. Nggak cuma satu orang, tapi ada beberapa. Cek aja kolom komentar di postingan yang aku sertakan link nya diatas tadi.

Aku nggak percaya gitu aja dong .. Dan kebetulan aku lagi ada kesempatan buat membuktikan langsung untuk terbang bersama Garuda Indonesia untuk menghadiri undangan event dari salah satu brand laptop gaming yang sangat populer di Indonesia & dunia. Hanya saja, rutenya nggak sama seperti yang mereka sebutkan di komentar.

Yang aku alami dari perjalanan Denpasar-Jakarta bolak-bolak itu sih aku dapet makanan berat seperti biasa. Tapiiii… Sekarang itu pilihan minumannya cuma dua, yaitu jus jeruk sama susu doang. Nggak seperti dulu yang pilihannya banyak. Padahal aku udah pede aja tuh bilang sama mbak pramugarinya, “Jus jambu gapake es ya mbak..” 😆🤣

Makanan di Garuda kelas ekonomiNah pas sampai di Jakarta, ternyata banyak temen blogger dari berbagai daerah lain yang lagi ghibah soal Garuda juga. Sampe nanya-nanya satu sama lain gitu deh. Mulai dari kertas boarding pass nya yang jadi lebih tipis, hingga snack yang didapat jadi nggak “sebagus” yang dulu-dulu. FYI, sebelum ini, kita-kita juga ngumpul di Jakarta naik Garuda sekitar bulan Januari lalu. Dan semua tentang Garuda masih “terasa cukup normal”.

Oke, akupun mengambil kesimpulan bahwa mungkin semua ini dilakukan dalam rangka untuk mengurangi biaya operasional. Jadi saat itu aku masih berusaha memaklumi aja lah ya.

Tapi untuk soal yang “harusnya dapet makanan berat tapi sekarang jadi dapet snack doang” seperti komentar di posting sebelumnya tadi itu, aku belum bisa konfirmasi sih. Karena dari semua temen blogger yang ngumpul di Jakarta itu, nggak satupun yang rutenya sama seperti yang di komentar tadi.

Lalu, Aturan Baru Pun Jadi Viral

Nah sehari sebelum aku posting tulisan ini, ternyata di socmed lagi viral soal aturan larangan dokumentasi sepeti yang aku sertakan diatas tadi. Akupun kemudian berpikir, “Ini Garuda kenapa sih kok gini amat?”. Padahal, dokumentasi penumpang baik berupa foto atau video itu kan bisa jadi ajang pamer bagi para netizen.

Pamer karena BANGGA bisa naik Garuda Indonesia, yang mana itu juga bisa jadi sarana promosi gratis juga bagi Garuda. Tapi kok sampe dilarang segala?

Usut punya usut …

Ternyata, banyak yang MENDUGA bahwa peraturan itu berkaitan dengan viralnya video dari seorang Youtuber sekaligus Selebgram yaitu Rius Vernandes yang menampilkan soal menu makanan di kelas bisnis Garuda. Jadi daftar menu yang mereka punya itu dituliskan menggunakan tulisan tangan. Hal tersebut ia posting di instastory.

Menu tulisan tangan garuda IndonesiaSelain itu di channel youtube nya, dia juga sempat mewawancarai salah satu penumpang lain. Yang mana dalam wawancara itu terdapat semacem komplain atau kritik buat Garuda Indonesia. Video kronologinya adalah seperti ini (siapkan kuota dan popcorn, karena ini videonya 20 menitan):

Nahhhh nggak lama setelah kasus postingan di instastory dan youtube itu, muncul lah peraturan yang ramai dibicarakan tadi. PLUS, ternyata sang selebgram tadi juga dilaporkan ke polisi (diduga) karena kasus postingan yang ia publikasikan.

Kasus Rius Vernandes dan GarudaWELEH, INI GARUDA KENAPA SIH?

Dari kronologi tersebut, para netizen jelas jadi berburuk sangka dong. Ini kok Garuda gini amat sih? Bahkan ada banyak sekali netizen di twitter yang berkata bahwa apa yang dilakukan Garuda ini bagai pepatah yang bunyinya “buruk rupa, cermin dibelah”.

Dari video yang diposting di youtube tersebut aku pribadi juga menangkap bahwa disana memang berisi beberapa keluhan dan kritikan. Beberapa diantaranya adalah stok minuman yang ternyata cepat habis. Mungkin ini bagian dari pengurangan biaya operasional? Bisa jadi.

Tapi aku nggak tau pasti sih, apakah sebelumnya seperti ini juga atau nggak. Karena aku sama sekali belum pernah mencicipi duduk di kursi Business Class Garuda. Kelas ekonomi aja udah paling mentok itumah 🤣.

Ditambah lagi soal menu yang dituliskan dengan tangan (bukan di print). Bukan hal yang penting banget sih memang. Tapi ya masa segitu nggak siapnya sih? Apalagi, you know lah, para konsumen pasti bakal “berharap lebih” karena mereka juga udah membayar lebih. Jadi kurasa wajar dong mereka mengeluhkannya?

Kalo ada yang bilang “ya tapi wawancaranya jangan didalem pesawat juga”, itu justru salah juga. Karena kalo misal wawancaranya diluar pesawat, apa bedanya? Toh jadinya bakal keluar keluhan dan kritikan yang sama. Belum lagi nanti disangkanya hoax lah, setingan lah, atau apalah. Karena diambil di waktu dan tempat yang berbeda. Yakan?

Saranku Buat Garuda Tercinta

Pengalaman naik pesawat garuda kelas ekonomiOke, balik lagi. Mungkin semua yang kusebutkan diatas itu merupakan dampak dari pengurangan biaya operasional. Ya kita sih mungkin bakal maklum. Tapi kita juga punya hak dong buat komplain? Kita ini konsumen loh.

Kalau mau berpikir dewasa, kritikan dan keluhan yang disampaikan oleh konsumen itu sebenernya bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk berbenah. Apa aja yang kurang, apa aja yang harus dipersiapkan, apa aja yang harus diperbaiki.

Tujuannya ya supaya kalian bisa memberikan service yang lebih baik bagi konsumen. Minimal nggak terkesan buruk-buruk amat lah.

Tapi kalau ujung-ujungnya malah melaporkan mereka yang menyampaikan kritik, kesannya justru buruk buat Garuda sendiri. Dan jangan marah kalau banyak yang nganggep bahwa Garuda itu anti kritik gara-gara kasus ini.

Terus kalo ada yang bilang “menyampaikan kritik jangan di social media dong”, ya kan dia tuh nge-review. Review itu nggak selalu bagus, tapi pasti selalu bakal dipublikasikan. Baik via socmed ataupun yang lain. Dan menurutku, review dia itu sama sekali nggak menjelek-jelekkan kok.

Dan kalo emang Garuda merasa dijelek-jelekkan, ya balik lagi, itulah “kaca” buat kalian, wahai maskapai kebanggaan kami. Aku pribadi punya pengalaman kok, pernah memposting review negatif sebuah produk hape. Dan tau apa yang brand hape itu lakukan?

Mereka BERBENAH dan janji bakal menghadirkan produk yang lebih baik untuk selanjutnya. Plus, meminta aku buat mereview lagi saat produk barunya sudah diluncurkan. Bukan malah melaporkanku ke polisi. Ibarat kata, “produk kamu yang jelek, kok aku yang ditangkep?”.

Balik lagi ke soal Garuda. Kalau misal kalian tetep seperti ini, enggan menerima review negatif dan terkesan menutup diri terhadap kritik, yang ada kalian bukan bakal jadi tetap terlihat baik, tapi justru bakal ditinggalkan oleh konsumen yang nggak puas.

Mungkin bukan sekarang, tapi bertahap, perlahan-lahan. Seiring dengan bertambah banyaknya konsumen yang merasakan sendiri kekecewaan yang sama. Dan tanpa kritik atau review negatif ini, mungkin kalian nggak bakal sadar diri bahwa ada sesuatu yang salah, yang membuat konsumen kalian nggak suka.

Sebaliknya, kalau seandainya kalian mau menanggapi kritik dengan positif dan berbenah, maka kalian bisa MENCEGAH konsumen lain untuk merasakan kekecewaan yang sama.

Yang mana mereka ini nantinya bisa menjadi para pembela-pembelamu, meluruskan bahwa service yang kamu berikan TIDAK LAGI seburuk yang disampaikan dalam review. Dan perlahan bakal mengembalikan kepercayaan konsumen terhadapmu.

Silakan dicerna, silakan dipikirkan kembali.

Tujuanku memposting tulisan ini bukan apa-apa, aku cuma ngerasa sayang kalo reputasi baik Garuda Indonesia yang sudah susah payah dibangun selama ini, harus dihancurkan lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here