Home Review Cerita Perjalanan Menengok Proses Pembuatan Batik di Kampung Alam Malon

Menengok Proses Pembuatan Batik di Kampung Alam Malon

318
2

Menengok Proses Pembuatan Batik di Kampung Alam Malon – Bus rombongan kami bergerak menanjak menuju dataran yang lebih tinggi di Semarang. Dan dari situ saya baru tau kalau ternyata dataran di Semarang itu berbukit-bukit. Karena ketika sudah berada di area yang cukup tinggi, saya bisa melihat sendiri keadaan tersebut dari balik jendela bus. Ya maklum, ini adalah kali pertama saya mengunjungi kota Semarang.

Semakin kesini, bus kami nampak melalui jalan yang semakin sempit, layaknya sebuah jalan yang ada di pedesaan. Rumah-rumah warga pun nampak jauh dari kesan modern, yang mungkin juga bisa langsung membuat sebagian orang merasa rindu masa kecil bersama kakek dan nenek ketika melihatnya. Atau mungkin hanya perasaan saya saja ya? Entahlah 😀

Tak lama kemudian, bus mulai memperlambat lajunya dan kami diberitahu bahwa kami sudah sampai di Kampung Wisata Malon.

Kampung Alam Malon SemarangSedikit diluar perkiraan, karena awalnya saya pikir kampung atau desa ini menawarkan view atau bangunan unik sebagai “sajian” utamanya, seperti yang bisa ditemukan di Desa Penglipuran, Bali.

Namun ternyata, kampung ini menyajikan wisata edukasi alias eduwisata dengan konsep yang saya rasa sudah cukup menyenangkan karena jujur saja, di lokasi inilah saya jadi merasa lebih betah untuk berlama-lama.

Melihat Proses Pembuatan Batik

Proses Pembuatan Batik Kristal MalonKampung Alam Malon ini bisa dibilang punya potensi berupa hasil alam. Sehingga jangan heran jika sebagian besar wilayahnya digunakan sebagai lahan pertanian dan perkebunan.

Lalu dengan semangat dari para penduduknya, maka muncul lah bibit-bibit kreatifitas untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki, salah satunya tertuang dalam bentuk produk kain batik.

Bahan pewarna alami batik malon SemarangSalah satu ketua RT di Kampung Malon menyebutkan bahwa hal unik dari produk batik yang mereka miliki bukan hanya dari segi motifnya yang khas saja, akan tetapi juga dari sisi bahan dan bahkan alat yang mereka gunakan.

Disebutkan bahwa mereka berusaha sebisa mungkin untuk membuat produk (batik) yang ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan hasil alam seperti limbah mangrove dan atau tanaman indigofera sebagai pewarna alami untuk batik yang diproduksi.

Batik Cetak Malon SemarangDan bahkan mereka menggunakan kertas (semacam kertas dus atau karton) yang dibentuk sedemikian rupa sebagai cetakan yang mereka gunakan untuk membuat batik “cap”.

Selain lebih ramah lingkungan karena lebih mudah untuk di daur ulang, cetakan ini tentu juga jauh lebih murah ketimbang harus menggunakan cetakan berbahan tembaga seperti yang umumnya digunakan.

A post shared by Hayuk Lah (@hayuklah) on

Tumbuhan-tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pewarna untuk kain batik yang mereka produksi juga merupakan hasil alam yang ditanam di area perkebunan yang terdapat di area sekitar.

Saya sendiri melihat bahwa lahan yang mereka miliki tersebut cukup produktif karena ada banyak sekali jenis tumbuhan dan buah-buahan yang ditanam, termasuk diantaranya ada kacang, singkong, kentang, hingga beberapa jenis durian. Sayangnya pada saat kunjungan kami berlangsung, pohon durian sedang tidak berbuah. Sehingga kami tak bisa mencicipinya 🙁

Padahal menurut cerita dari beberapa teman yang sudah pernah berkunjung ke Kampung Alam Malon, durian yang dihasilkan disini berukuran wumbo dengan harga yang bisa dibilang cukup mahal, namun dijamin pasti puas karena konon sepotong daging buahnya saja bisa bikin perut terasa kenyang 😮

Duh, jadi ngiler . . . Oke skip! Kita kembali ke topik soal batik ya 😀

A post shared by Hayuk Lah (@hayuklah) on

Agar dapat siap dijadikan sebagai bahan pewarna, tumbuhan yang digunakan harus melalui proses yang panjang, mulai dari direndam, di fermentasi, dan berbagai proses lainnya.

Oiya, lama waktu pengerjaan untuk produk batiknya sendiri tergantung dari tingkat kesulitannya. Kalau batik yang dicetak sih bisa lebih cepat jadi ya. Nah kalau batik yang ditulis atau digambar langsung, prosesnya bisa memakan waktu hingga satu bulan atau bahkan lebih.

A post shared by Hayuk Lah (@hayuklah) on

Batik-batik yang sudah jadi, bisa langsung dibeli di lokasi, atau bisa juga ditemukan di Semarang Kreatif Galeri (Galeri UMKM) yang berlokasi di kawasan Kota Lama, Semarang.

Merasakan Kembali Keceriaan Yang Hampir Punah

Agak berlebihan sebenarnya, tapi mungkin itulah kata yang paling mendekati untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika berkunjung ke Kampung Alam Malon.

Kunjungan ke lokasi ini bukan hanya sekedar datang, berfoto, lalu pulang. Tenangnya suasana di kampung ini saya rasa sangat efektif sekali untuk “melarutkan” pikiran yang sudah jenuh dengan hiruk-pikuk kota dengan segala keribetannya.

Kita juga bisa merasakan kegembiraan dari permainan tradisional, yang tak bisa kita dapatkan dari layar gadget. Serta hangatnya kebersamaan yang bisa kita rasakan saat mengunjungi rumah warga, yang tak bisa kita dapatkan dari aktivitas chatting di aplikasi messenger.

A post shared by Hayuk Lah (@hayuklah) on

Suasana keakraban seperti itu sudah bisa saya rasakan sejak kami turun dari bus rombongan, dimana sesaat kemudian kami langsung disambut oleh warga dan disuguhi minuman khas yang diberi nama Wedang Malon.

Saat memasuki jam makan siang pun saya dibuat merasakan kembali hangatnya berkumpul bersama keluarga dengan menikmati kuliner khas kampung ini, yang salah satunya diberi nama Sate Krembis. Obrolan-obrolan hangat pun tercipta ketika kami menyantap hidangan yang disediakan, lengkap dengan suasana pedesaan yang memorable.

Akhir Kata

Saya berharap agar Kampung Alam Malon bisa benar-benar mempersiapkan diri agar bisa menjadi destinasi wisata alternatif di kota Semarang. Karena memang saat kunjungan saya ini (Mei 2018) kabarnya memang mereka masih berusaha berbenah untuk bisa mewujudkan sebuah Kampung Wisata seperti yang diharapkan.

Dan saya juga berharap bahwa experience yang kami rasakan selama mengunjungi lokasi ini adalah “standar” mereka untuk menjamu tamu yang datang ke Kampung Alam Malon, atau mungkin bisa lebih baik lagi.

Karena saya rasa, experience tersebut cukup efektif untuk dijadikan pelarian dari jenuhnya keseharian di kota.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here