Menghadapi Berbagai Rintangan Saat Naik Bus Dari Jakarta ke Bali

Menghadapi Berbagai Rintangan Saat Naik Bus Dari Jakarta ke Bali – Cerita ini adalah bagian keempat yang mengisahkan perjalanan saya dari Denpasar menuju ke Metro Lampung, dan kembali lagi ke Denpasar Bali dengan menggunakan alat transportasi bus. Dalam perjalanan sebelumnya yaitu dari Metro Lampung menuju ke Jakarta untuk transit, saya tak menemukan kendala berarti. Namun ceritanya sangat berbeda ketika saya naik bus dari Jakarta ke Bali. Yang mana ada beberapa rintangan yang menghambat selama di perjalanan.

Dalam perjalanan tersebut, saya kembali menggunakan jasa dari bus Safari Dharma Raya. Dan menariknya, bus yang saya tumpangi kali ini adalah bus yang sama persis, yang digunakan saat saya melakukan perjalanan dari Denpasar ke Jakarta. Iya, saya meyakini hal itu karena saya ingat beberapa ciri fisik dari bus tersebut.

Namun walau menaiki bus yang sama, biaya naik bus Jakarta-Bali ternyata sedikit lebih mahal dibandingkan dengan biaya saat berangkat dari Bali ke Jakarta. Yaitu 485.000 rupiah. Oh iya, pemesanan tiket bus ini saya lakukan dengan cara menelpon ke nomor kantor Safari Dharma Raya di Jakarta. Karena saat saya coba untuk pesan tiket secara online, ternyata tidak bisa. Nanti nomor telepon dan alamatnya akan saya cantumkan di akhir postingan ini.

Dari Awal Sudah Nggak Mulus …

Sebenarnya sih saya ingin menjadwalkan keberangkatan dari Metro pada tanggal 5, agar sampai di Jakarta pada tanggal 6 di pagi hari. Lalu menginap semalam, dan lanjut berangkat dari Jakarta pada tanggal 7 Februari 2020. Hal itu saya maksudkan agar bisa sekalian menghadiri undangan dari rencana event yang kabarnya akan digelar pada tanggal 6. Namun saat itu, pihak penyelenggara tak kunjung memberikan konfirmasi apapun mengenai kejelasan acara hingga tanggal 4.

Ya karena waktunya sudah mepet, maka pada tanggal 4 saya putuskan untuk melakukan pemesanan tiket Metro-Jakarta (5 Feb) dan juga Jakarta-Denpasar (6 Feb). Kesalnya, tak sampai satu jam setelah saya melakukan pemesanan tersebut, eh e-mail konfirmasi soal acara baru dikirimkan.

Jadilah saya re-schedule perjalanan dari Jakarta-Bali, dan dimundurkan ke tanggal 7 Feb. Plus, saya juga melakukan booking tempat penginapan untuk stay di Jakarta selama satu malam. Sudah? Oke, saya merasa lebih lega karena tak ada lagi jadwal yang belum terkonfirmasi.

Tapi …

Lagi-lagi! Tak sampai satu jam setelah saya membooking semuanya, eh kok ya ada pemberitahuan lagi bahwa event akan diundur sampai tanggal 12 Februari. Hemm, ingin ku berkata kasar. πŸ˜‘

Jadilah saya harus kembali mengubah jadwal keberangkatan bus dari Jakarta menuju ke Bali untuk tanggal 6 saja. Sayangnya, penginapan yang sudah terlanjur saya booking tadi tak bisa dibatalkan. Yasudahlah 😌 ~

Saya tiba di Gambir, Jakarta, sekitar jam setengah 7 pagi. Saya langsung berjalan ke pintu keluar dan memesan taksi online untuk pergi ke pool Safari Dharma Raya di kawasan Kebayoran Lama, untuk membayar tiket dan menitipkan koper. Selanjutnya saya memesan ojek online untuk menuju ke kawasan Mangga Besar, dimana penginapan yang terlanjur saya booking tersebut berlokasi.

Disana saya hanya numpang mandi, makan, menggeletakkan badan selama kurang lebih dua jam, lalu check-out untuk pergi kembali ke pool Safari Dharma Raya. Karena jadwal keberangkatan busnya adalah jam 3 sore, dan saya ingin tiba di lokasi setidaknya satu jam sebelumnya.

Bus Akan Berangkat Dari Pool

Titik keberangkatan pool Safari Dharma Raya JakartaBus nampak berjejeran, dan beberapa sedang dipanaskan di atas kompor menggunakan api sedang. Karena waktunya masih agak lama, saya pun jelas harus menunggu. Untungnya, pool yang ada di Jakarta ini punya ruang tunggu yang sangat nyaman. Senyap, dan sejuk. Suara mesin bus yang berada di sebelah ruangan tersebut nyaris tak mampu mengganggu kami yang ada di dalamnya.

Dan walau tidak terlalu luas serta punya tempat duduk yang tidak terlalu banyak, namun rasanya ruangan ini masih sanggup untuk diisi oleh sekitar 20 sampai 30 orang. Bagasi mulai dibuka, barang bawaan penumpang mulai dimasukkan. Saya baru tau kalau ternyata Denpasar bukanlah tujuan akhir dari bus tersebut. Karena ternyata, cukup banyak penumpang yang akan melanjutkan ke Lombok, bahkan hingga Bima, yang menaiki bus yang sama. Entah berapa hari mereka baru sampai di tempat tujuan.

Salah satunya adalah penumpang yang duduk di sebelah saya. Om-om yang akan pergi ke Lombok ini mengisi perjalanan dengan berbagai obrolan non-sense sehingga membuat saya kurang nyaman walau hanya mendengarkan saja. Tapi ya emang dasarnya saya kurang suka ngobrol sih. Khususnya obrolan kurang berfaedah, terlebih pada orang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Di sisi lain, dia meninggalkan kesan bahwa ia adalah orang baik.

Pool yang berada di kawasan Kebayoran Lama itu sekaligus juga menjadi titik keberangkatan dari bus Safari Dharma Raya di Jakarta. Seperti biasa, di awal perjalanan, kotak snack berisi dua buah roti dan air mineral diberikan kepada para penumpang.

Fasilitas jatah snack bus Safari Dharma Raya

Lalu lintas terasa cukup lancar hingga kami memasuki wilayah kota Bekasi yang super padat. Kami mampir sejenak di tempat yang sepertinya adalah agen tiket bus, untuk menjemput beberapa penumpang di sana. Nyaris tak ada yang bisa dinikmati di wilayah ini. Perjalanan terasa cepat di awal, tau-tau udah sampai di rest area pertama aja, di Tol Cipali km 101, tepatnya di rumah makan Taman Sari, pada jam 11 siang WIB.

Perjalanan dilanjutkan dengan terus melalui jalan tol hingga memasuki sekitaran wilayah Jawa Tengah. Bus beberapa kali berhenti untuk mengangkut beberapa titipan paket yang ukurannya sepanjang bak mobil pick up. Mereka mengangkut banyak sekali titipan hingga memanfaatkan ruang kursi di bagian belakang yang kosong sebagai tempat untuk meletakkan barang-barang tersebut.

Ada sedikit cerita horor …

Saya sudah mulai tertidur ketika malam telah tiba. Saat itu kami masih berada di jalan tol, melaju tanpa hambatan. Tiba-tiba, dalam tidur tersebut saya tiba-tiba bermimpi dan merasa seperti dicekik lalu diangkat oleh sesuatu. Saya kemudian terbangun dan sempat membuka mata dan masih sesak selama beberapa detik, sebelum bisa kembali bernafas normal.

Lalu, saya melanjutkan tidur. Dan hal serupa terjadi lagi, sampai tiga kali. Kemudian saya memutuskan untuk melihat keluar jendela. Dan ternyata … 😰

Nggak ada apa-apa tuh. Wkwkwk 🀣. Saat kejadian itu, bus memang sedang berhenti untuk memuat barang titipan paket yang cukup banyak. Di dekat rumah yang punya minim penerangan dan dikelilingi oleh pepohonan dan salah satunya sangat besar. Saya pikir, “Ah, mungkin penunggunya emang lagi pengen iseng.”.

Yasudah, saya pun memutuskan untuk terus membuka mata sampai kami bergerak lagi menjauhi lokasi tersebut. Supaya nggak diisengin lagi gitu maksudnya. Saat itu, kejadiannya di Pekalongan. Dan ketika bus sudah berjalan menjauh, saya kembali tidur dan syukurlah, kejadian tadi tidak terulang kembali.

… the end of cerita horor yang sepertinya nggak horor-horor amat.

Saya sempat terbangun saat bus berhenti di sekitaran wilayah Batang. Kru bus nampak menunggu sesuatu di luar. Ternyata, mereka menunggu mobil yang membawa titipan paket, untuk kemudian dimuat ke dalam bus. Waktu menunggu disini saya perkirakan lebih dari 30 menit. Entah sudah berapa lama bus menunggu ketika saya masih tertidur tadi.

Bus berjalan, saya pun melanjutkan tidur. Saat kembali membuka mata, saya memperhatikan bahwa bus berjalan pelan. Bukan di jalan umum, melainkan di area yang sepertinya adalah kompleks pergudangan dan pabrik di Semarang. Saat itu, bus kami diikuti oleh mobil pick-up Panther. Tak lama, mesin bus tiba-tiba ngadat dengan gejala seperti kehabisan bahan bakar, lalu kemudian mati.

Semua kru nampak bingung dan berusaha mencari sumber masalah. Beberapa kali mereka juga menelpon orang yang sepertinya adalah teknisi, untuk meminta saran. Namun mesin bus tak berhasil dinyalakan kembali. Apakah mesinnya kepanasan akibat belum ganti oli? Sepertinya nggak juga. Karena gejalanya berbeda.

Kami menunggu di dalam bus dan melihat kru yang sibuk cek ini-itu selama kurang lebih 40 menit, sebelum akhirnya mereka menyerah. Salah satu kru kemudian pergi dengan menumpang mobil pick-up Panther yang sedari tadi menunggu di belakang. Penumpang mulai gelisah karena suhu dalam kabin mulai naik karena AC yang juga mati. Sekitar 15 menit berselang, mobil pick-up itu kembali datang dengan membawa bala bantuan.

Yak, bus pengganti akhirnya didatangkan. Kami diminta untuk keluar dari bus sambil menunggu para kru memindahkan barang bawaan. Yang sangat banyak. Banyak sekali. Serius.

Titipan paket yang sedemikian banyak, plus ukurannya juga nggak santai, membuat proses perpindahan muatan jadi berjalan cukup lama. Sekitar 40 menit lamanya. Untunglah saat itu kami berhenti di kawasan yang amat sepi dan sama sekali tak ada kendaraan yang lewat. Sehingga, bus pengganti bisa disejajarkan agar proses perpindahan bisa dilakukan lebih mudah dan cepat. Walaupun yaa pasti melelahkan juga. Saya yang cuma ngeliat aja ikut capek rasanya.

Waktu tempuh Jakarta Bali via Darat

Bus pengganti dengan label “Bus Pariwisata” ini ternyata memiliki tempat duduk dengan space kaki yang cukup sempit. Tapi saya rasa, suspensinya terasa lebih baik. Saya kira, bus akan bergerak sedikit ke belakang untuk menuju ke rumah makan Sendang Wungu yang berlokasi di wilayah Batang. Rumah makan yang juga kami singgahi saat perjalanan Denpasar-Jakarta. Mengingat lokasinya yang juga dekat dari tempat mogoknya bus, serta waktu yang sudah menjelang pagi.

Tapi ternyata, bus bergerak jauh ke timur. Dan saya sempat mengira bahwa jatah makan pagi ditiadakan. Karena sampai matahari mulai meninggi, bus kami masih melaju cepat. Akhirnya, bus pun berhenti di sebuah rumah makan yang berlokasi di Kudus pada sekitar jam 9 pagi WIB.

Naik bus dari Jakarta ke Bali

Saya lupa apa nama rumah makannya. Yang jelas, air yang digunakan untuk menghidangkan teh hangat disini terasa kurang bagus. Jadi lebih baik jika kita membeli air mineral saja. Soal rasa makanan juga tergolong standar. Menurut saya, masih lebih enak makan di rumah makan Sendang Wungu yang saya sebutkan tadi.

Pemberhentian disini adalah yang paling lama selama perjalanan. Sekitar satu jam lamanya. Ya mungkin kru bus ingin sedikit beristirahat setelah menguras tenaga saat memindahkan muatan tadi. Perjalanan dilanjutkan dan sepertinya akan lancar-lancar saja. Hujan turun dengan derasnya. Jarak pandang nampak tidak terlalu baik. Dan jalan tol di sekitaran kawasan Surabaya itu terlihat ada beberapa genangan air yang cukup membahayakan. Sehingga sopir bus memilih untuk mengurangi kecepatan kira-kira 80km/jam.

Beberapa kendaraan pribadi juga nampak sangat berhati-hati seiring dengan semakin derasnya hujan yang turun. Kecuali pengendara sebuah mobil sedan yang sepertinya adalah Mitsubishi Lancer Evo, yang nampak memacu kendaraannya dengan kencang.

Hujan masih turun walau tidak separah sebelumnya. Tiba-tiba dari arah depan bus muncul bunyi seperti ada sesuatu yang bocor. Cukup lama dan sangat jelas terdengar, hingga sopir memutuskan untuk berhenti sejenak. Iya, di pinggir jalan tol, km 817.

Kendala di Jalan Tol

Beberapa penumpang curiga bahwa ban nya bocor. Karena memang terdengar seperti itu. Namun sepertinya bukan. Karena jika ban nya bocor, tentu laju bus tidak akan semulus itu.

Salah seorang kru kemudian pergi keluar dengan jas hujannya untuk mengecek kondisi bus. Total pemberhentian itu sekitar 30 menit lamanya, mulai dari jam 3 sore WIB. Syukurlah bus nampaknya masih sanggup untuk melaju dengan aman. Walau kami tak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi. Yang terpenting adalah tidak ada masalah yang berarti dari sisi keamanan.

Saya semakin antusias untuk melihat keluar jendela karena memang saya sudah menantikan sesuatu. Dan akhirnya, kami pun melewati the iconic PLTU Paiton. Maklum, terakhir sekali lewat sini adalah saat saya masih kecil. Saat dimana saya masih belum mengerti soal isu lingkungan yang menyertai pembangkit listrik seperti itu.

Setelahnya, saya selalu naik pesawat ketika pergi keluar kota. Sebenarnya pada perjalanan lalu sih juga lewat ya. Tapi sayangnya, saat itu saya ketiduran ☹️. Padahal kalau di situ, pemandangannya lebih bagus saat malam hari.

Tak jauh dari lokasi PLTU, bus Safari Dharma Raya Jakarta-Denpasar itu kembali menemui hambatan. Kali ini adalah kemacetan total selama kurang lebih 30 menit. Usut punya usut, ternyata telah terjadi sedikit longsor dan ada satu pohon tumbang yang menghalangi jalan. Keadaan memang sedang hujan, dan selokan yang ada disekitaran lokasi terlihat meluap.

Kendala perjalanan Jakarta Bali via darat

Lalu lintas berjalan cukup lambat. Beberapa spot nampak kebanjiran. Pandangan saya pun mengarah ke perbukitan yang berada dibelakang pemukiman warga. Nampaknya sudah dialihfungsikan sebagai kebun. Tidak lebat seperti hutan yang seharusnya.

“Oh, pantes …” 😌 Pikirku …

Saya memulai obrolan dengan penumpang di sebelah, mengenai kondisi alam yang bisa kami lihat bersama itu. Dengan suara cukup keras, berharap penumpang lain mendengarnya. Saya bicara soal lingkungan, pepohonan, dan ulah manusia.

Banjir di Paiton

“Kadang orang yang udah kaya, bermobil pun juga bisa goblok. Buang sampah seenaknya keluar jendela. Aku pernah liat sendiri tuh, ada orang ngelempar seplastik sampah dari mobil ke sungai. Yang macem itu kan bisa bikin air tersumbat, dan bisa jadi banjir ..”

Air nampak menggenangi nyaris sepanjang pinggir jalan dan menggenangi rumah warga. Pemandangan tak jauh beda ketika kami sampai di area pemukiman yang lebih ramai dan modern. Kemacetan tak terhindarkan, orang-orang nampak berdiri di pinggir jalan. Sebagian terlihat sedang sibuk mengungsikan barang-barangnya. Entah bagaimana nasib tanaman padi yang sawahnya turut terendam banjir itu.

Macet karena banjir saat perjalanan

Oiya, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore WIB. Dan kami belum makan siang πŸ˜‚. Kami baru tiba di rumah makan legendaris Puritama yang berlokasi di kawasan Pasir putih itu, pada jam 6 sore.

Jatah makan bus Safari Jakarta Bali

Tempat ini saya sebut legendaris karena dulu ketika alat transportasi udara belum populer, ia sangat ramai karena menjadi tempat singgah bagi banyak sekali PO bus yang melewati rute tersebut. Seberapa ramai? Dalam satu waktu bisa ada hingga belasan bus yang terparkir di sana. Khususnya saat musim mudik lebaran. Di sini pula pernah ada ratusan wajah penumpang yang nampak riang saat mereka baru tiba. Suasana yang tak lagi saya rasakan saat ini.

Rumah makan puritama pasir putih

Dari sini, perjalanan kami terasa lambat sekali. Sudah biasa memang, karena kita bakal menemui banyak kendaraan besar yang berjalan dengan lambat. Dan tak sedikit dari mereka yang juga menuju ke Bali. Saya tak ingat jam berapa kami sampai di Pelabuhan Ketapang dan mulai menyeberangi Selat Bali. Sepertinya sih tengah malam. Ditemani dengan gerimis di tengah laut.

Jangan lupa siapkan katepe. Agar kita bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Denpasar. Bus masih sempat mengangkut dan menurunkan beberapa muatan titipan paket di Terminal Gilimanuk. Terminal yang sangat sepi dan nampak hanya ada beberapa warung yang buka saat itu. Serta hanya ada beberapa bus kecil yang terparkir disana. Dan kemungkinan tidak akan melayani perjalanan ke Denpasar di tengah malam tersebut.

Syukurlah, tak ada hambatan lagi bagi kami. Kru bus sempat bertanya pada kami yang ingin turun di Denpasar. Mau turun dimana? Apakah kami mau diturunkan di Terminal Mengwi, atau di sekitaran Ubung? Kata kernetnya, kita memungkinkan untuk bisa langsung bablas tanpa mampir ke Terminal Mengwi karena bus pengganti ini adalah “Bus Pariwisata”. Dan kami semua memilih ke Ubung saja.

Eits, tapi tak benar-benar di Terminal Ubung ya, melainkan di sebuah rumah makan dekat Ubung yang menjadi rest area bagi mereka yang melanjutkan perjalanan ke Lombok dan hingga ke Bima. Nah kita yang turun di Denpasar nggak dapet jatah makan di sini.

Kami tiba di lokasi yang berada di Jalan Cargo Permai itu saat hari sudah menjelang subuh, atau sekitar jam setengah 5 WITA atau jam setengah 4 WIB. Jadi jika ditotal, waktu tempuh Jakarta-Bali via darat menggunakan bus ini adalah sekitar 37 jam lebih 30 menit. Yah, untungnya tak sampai dua hari lah. Sebenarnya mungkin bisa lebih cepat jika kami tak menemui berbagai kendala seperti yang saya ceritakan tadi.

Saya perkirakan, total waktu terbuang dalam perjalanan tersebut, termasuk karena macet akibat banjir, plus waktu menunggu mobil yang akan menitipkan paket sebelum bus mogok adalah sekitar 4 jam lamanya.

Jadi kemungkinan jika semua berjalan dengan lancar, kami akan tiba pada tengah malam. Atau yaa, sekitar 33 jam lah. Dan kalaupun benar, tetap saja jauh lebih lama jika dibandingkan dengan perjalanan Denpasar-Jakarta yang normalnya hanya 24 jam. Entah apa yang menyebabkan selisihnya begitu jauh. Padahal, perasaan rute yang dilalui juga sama saja. Dan mungkin inilah yang membuat harga tiketnya juga jadi sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan tiket Denpasar-Jakarta.

Saya memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan memesan Gojek. Menuju ke sekitaran wilayah sesetan yang berjarak 11 kilometer lebih dari lokasi, dengan biaya 27.000 rupiah.

Yah, itulah cerita pengalaman perjalanan saya dari Jakarta menuju ke Denpasar Bali menggunakan bus. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini. Ohiya, berikut adalah nomor telepon dan alamat pemesanan tiket Safari Dharma Raya di Jakarta.

  • Terminal Bayangan. Jl. Ciputat Raya πŸ“ž 081-514672499
  • JL. R.E Martadinata KM 27 , Pondok Cabe πŸ“ž 021-7432092 | πŸ“ž 085-217339000
  • Ruko Pondok Pinang I/BB/7, Jl. Ciputat Raya No. 40, Kebayoran Lama πŸ“ž 021-27656361
  • JL. Raya Kebayoran Lama No. 40, Grogol UtaraΒ πŸ“ž 021-5348167 | πŸ“ž 021-5348169
Mas Pandu
Founder Hayuklah.com | Suka foto, tapi agak kurang narsis | Pengagum alam, tapi bukan alay | Digital marketing strategist at Vionlin.com | Also known as Mas Bocah