Mencoba Kembali Naik Lion Air di Tahun 2020

Mencoba Kembali Naik Lion Air di Tahun 2020 – Setelah sekian tahun lamanya aku memilih untuk menghindari maskapai penerbangan yang satu ini, akhirnya pada pertengahan Februari tahun 2020 kemarin aku memilih untuk mencoba kembali menggunakan pesawat Lion Air untuk terbang dari Denpasar ke Jakarta dan sebaliknya. Tapi, emm … Itupun sebenarnya ada ada ceritanya yaa.

Jadi gini, ingat dengan cerita perjalananku saat naik Bus dari Jakarta ke Bali beberapa waktu lalu? Di sana aku menceritakan bahwa sebenarnya aku mendapat undangan event di Jakarta, ketika aku masih berada di kota Metro Lampung. Kemudian, aku memilih dan sudah terlanjur memesan tiket bus untuk pergi ke Jakarta dengan maksud untuk menghadiri undangan tersebut. Eh ternyata kok ya pada H-1, penyelenggara baru konfirm kalau acaranya diundur hingga minggu depan.

Jadilah akhirnya aku bablas aja langsung ke Bali via jalur darat lagi dengan maksud untuk merasakan kembali sensasi perjalanan jauh lewat jalur darat, sekaligus agar aku bisa membuatkan reviewnya untuk pembaca blog ini.

Setelah tanggal, tempat dan waktu diselenggarakannya event sudah di konfirmasi oleh penyelenggara, akhirnya aku pun mulai mencari tiket pesawat untuk pergi ke Jakarta. Acaranya sendiri rencananya akan dimulai pada jam 10.30 WIB. Sehingga aku harus memilih flight paling pagi untuk dapat mengejar waktu.

Pengalaman naik pesawat Lion Air 2020

Nah, oleh karena harus mengejar waktu, plus harus menyesuaikan dengan terbatasnya budget yang disediakan oleh penyelenggara untuk urusan transportasi, maka aku terpaksa harus memilih maskapai Lion Air. Iya, terpaksa. Karena maskapai low budget lain, nggak ada yang jadwalnya pagi banget. Mirip lah dengan event di Jawa Tengah pada tahun 2018 lalu.

Apa Boleh Buat …

Lion Air ini sebenarnya adalah opsi paling terakhir yang bakal aku pilih. Yaaa, kalian tau sendiri lah selama ini, reputasi buruk mereka seperti apa? Nggak lain adalah karena maskapai ini dikenal sering delay, yang juga menjadi salah satu alasan terbesar mengapa orang enggan memilih Lion Air, termasuk aku sendiri.

Kebetulan saat itu, aku berangkat ke Jakarta bersama dengan 5 orang Blogger lain yang datang dari berbagai kota yaitu Jogja, Pekanbaru, dan juga Solo. 3 dari 5 orang temanku ini juga terpaksa memilih maskapai Lion Air untuk penerbangannya.

Apakah Lion Air Masih Sering Delay?

Aku berangkat dari rumah sebelum subuh, sekitar jam 4 lebih 15 WITA. Sebenernya sih harusnya aku berangkat lebih awal ya, karena jadwal penerbanganku adalah jam 7 pagi, dan jadwal boarding nya adalah jam 6.30. Sedangkan perjalanan dari rumah ke bandara paling cepat adalah 30 menit, itupun kalau bisa konsisten di kecepatan 80-90km per jam. Belum lagi waktu buat jalan kaki dari parkiran hingga menuju ke ruang tunggu yang bisa memakan waktu setengah jam juga.

Iya, aku memutuskan untuk naik motor saja dan menitipkannya di bandara. Dan aku sampai di ruang tunggu pada sekitar jam 5.40. Ini sih terbilang cukup santai ya, karena seharusnya lebih cepat. Buat kamu yang belum tau atau baru akan pertama kali naik pesawat, kita tuh sangat disarankan untuk bisa sampai di bandara setidaknya dua jam sebelum jadwal keberangkatan.

Karena prosedur yang harus dilalui itu terbilang cukup panjang dan memakan waktu. Terlebih jika ternyata kamu membawa banyak barang dan harus menitipkannya di bagasi pesawat. Plus, buat kamu yang bener-bener awam soal dunia penerbangan, coba deh baca soal istilah-istilah yang biasa dipakai. Supaya kamu nggak bingung saat lanjut baca tulisan ini dan nggak bingung pula saat di bandara nanti.

Ok, kembali ke topik …

Untungnya aku sudah melakukan cek-in online pada malam harinya. Plus, saat itu aku melakukan perjalanan tanpa bagasi karena hanya membawa satu buah tas ransel berisi laptop yang tipis dan ringan. Sehingga, sesaimpainya di bandara aku bisa langsung masuk dan mencetak sendiri boarding pass ku di mesin self check-in yang tersedia.

Apakah Lion Air masih sering delay?

Jam 5.40 WITA itu masih sangat pagi. Bahkan mentari pun baru menunjukkan dirinya setengah jam setelah aku tiba. Tetapi di lokasi sudah banyak calon penumpang yang duduk manis menunggu penerbangannya. Aku sempat terpikir dalam hati:

“Wah, kalo sampe delay pasti bakal ngeselin banget nih. Udah bela-belain dateng pagi banget sampe ngorbanin waktu tidur kan …”

Tapi ternyata, setelah menunggu kurang dari satu jam di sana, aku tak mendengar satupun pengumuman delay, khususnya untuk maskapai Lion Air. Bahkan kami yang berangkat dari Bali menuju Jakarta juga mendapat panggilan boarding yang tepat waktu, yaitu 6.30 pagi WITA. Wah syukurlah, nggak delay!

Tempat duduk Lion Air 2020

Dalam perjalanan ini, kami menggunakan pesawat jenis Boeing 737-900ER, dengan space kursi yang .. Yah, standar low-cost carrier lah ya. Yang bikin kesel adalah, aku kan milih tempat duduk di deket jendela tuh ya. Dengan maksud supaya bisa melihat pemandangan saat terbang nanti. Tapi ternyata, yang aku dapat adalah:

Naik pesawat Lion Air dari Bali ke Jakarta

Kok kesel ya? 😩 Nggak kebagian jendela akutu. Mana orang di depan yang dapet jendela juga resek pulak. Jendelanya ditutup sepanjang perjalanan. Bahkan pada saat lepas landas yang seharusnya jendela terbuka, eh malah ditutup sama dia. Otaknya si mbak itu ketinggalan nampaknya 😒.

Hal resek lain yang dilakuin si mbak norak itu adalah dengan seenaknya matiin ac orang disebelahnya. Terus langsung dinyalain lagi sama orang tersebut. Oke, cukup sudah sesi ghibah nya.

Penerbangan terasa tak terkendala dan kami mendarat tepat waktu alias sesuai dengan jadwalnya. Dan menariknya, tiga teman lain dari kota berbeda yang juga naik pesawat Lion Air ternyata juga berhasil mendarat tanpa delay. Wah, apa karena masih pagi banget ya? Jadi masih lancar? 🤔 Apapun itu, jelas hal ini merupakan awal yang baik.

Pengujian Kedua di Hari Yang Sama

Event yang saya hadiri di Jakarta tersebut hanya berlangsung selama dua setengah jam lamanya. Kemudian, kami memutuskan untuk langsung kembali ke bandara tanpa keluyuran kemana-mana lagi. Sebenarnya sih, waktunya masih sangat lama bagi 4 orang dari kami. Karena jadwal yang kami dapat adalah saat hari sudah gelap. Saya sendiri mendapat jadwal penerbangan kembali ke Bali pada jam 19.45 WIB.

Itupun kemudian mendapatkan reschedule menjadi jam 20.45 WIB. Nggak cuma aku sih, karena 3 orang dari total 4 orang yang naik Lion Air pada hari itu juga mendapatkan penjadwalan baru. Penantian yang cukup lama karena kami sudah sampai di bandara pada jam 15.30 WIB. Tapi sebenarnya memang seperti itu rencananya.

Karena aku ingin langsung menggarap tugas selepas event ketika sudah berada di bandara. Agar semua terselesaikan dengan cepat. Yang bikin kesal adalah, harga tiket dengan jadwal keberangkatan 19.45 yang aku beli itu punya selisih lebih mahal 50 ribu dibandingkan jadwal 20.45. Aku beli yang lebih awal ya supaya bisa cepat pulang. Eh lah kok ternyata malah diundur dan diikutkan ke yang jadwalnya di jam 20.45. Kan kesel. Tau gitu beli sekalian yang jam 20.45 aja, biar lebih murah. 😒

Kembali ke topik …

Setibanya di bandara, kami berempat langsung mencetak boarding pass menggunakan mesin self check-in Lion Air di bandara Soekarno-Hatta. Dari beberapa mesin yang tersedia, dua diantaranya ternyata rusak.

Mesin self check in Lion Air bandara Soetta

Letaknya sih memang di dekat loket milik Lion Air, tapi sepertinya mesin tersebut bukan milik Lion Air. Karena ada banyak pilihan maskapai lain yang bisa dipilih pada mesin tersebut.

Aku dan seorang teman yang akan ke Pekanbaru berangkat dari terminal 1B. Sementara dua teman lain yang berangkat ke Solo berangkat dari terminal 1A. Kami pun berpisah selepas mencetak boarding pass tadi. Karena waktu menunggu yang masih lama, akupun mulai mengeluarkan laptop dengan maksud untuk mulai menggarap kerjaan selepas event tadi.

Tapi kok ya ternyata pada saat aku buka, ternyata ASUS Zenbook Flip UX362FA yang aku bawa masih dalam keadaan lobat 19%. Iya, ternyata semalem aku lupa ngecas! Mana dengan pedenya nggak bawa charger pulak. Wkwkwkwk 😂🤣.

Jadi yang bisa aku lakukan hanyalah melakukan editing foto-foto event serta membuat sedikit draft dengan total waktu satu jam lebih. Setelah itu, baterai sudah menunjukkan angka 9% dan aku memutuskan untuk mematikannya saja.

Selama waktu menunggu yang kurang lebih 5 jam itu, aku juga tak mendengar satupun pengumuman delay dari maskapai Lion Air. Demikian pula dengan penerbanganku, dan kawan-kawan lainnya yang ternyata juga tepat waktu alias sesuai jadwalnya.

“Wah, ada peningkatan nih!”

Yah, ketepatan waktu tersebut udah cukuplah untuk membuat pengalaman naik Lion Air ke Bali menjadi terkesan positif. Sepertinya mereka sudah coba memperbaiki image yang dulu dikenal sebagai maskapai rajanya delay. Semoga kedepannya prestasi ini selalu bisa dijaga ya. Itulah sedikit review perjalananku naik pesawat Lion Air di pertengahan Februari tahun 2020. Semoga bisa bermanfaat buat kalian yaa!

Mas Pandu
Founder Hayuklah.com | Suka foto, tapi agak kurang narsis | Pengagum alam, tapi bukan alay | Digital marketing strategist at Vionlin.com | Also known as Mas Bocah