Kenangan Legend Yang Mungkin Harus Dilestarikan Lagi

Kenangan Legend Yang Mungkin Harus Dilestarikan Lagi – Pagi itu, seorang pedagang melewati jalan dekat kontrakan kami. Ia berteriak-teriak sebagai tanda bahwa ia menjual sesuatu. Namun saya tak cukup paham tentang apa yang diteriakkan oleh pedagang bersepeda tersebut. Hingga saya pun bertanya kepada istri saya:

Itu sebenernya jualan apa sih? Kok “wek-wek” gitu? (seperti suara bebek)

Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata ibu itu berjualan kue. Kenangan masa lalu pun mulai terlintas di pikiran. Dan kami mulai bertukar cerita tentang indahnya masa kecil dulu. Tentang bagaimana bagusnya kualitas dari jajanan murah jaman dulu, mengagumi kebugaran para tetua yang sanggup memikul dagangannya keliling komplek perumahan, hingga bagaimana dulu kami sama-sama berlangganan becak untuk antar jemput sekolah. Tentang hal-hal yang mungkin sekarang sudah hampir punah.

“Iya, dulu ada mbah-mbah jualan tape. Udah tua banget kayanya, tapi masih bugar banget ..”

“Terus ada yang jualan ikan mujair hidup, embernya isinya penuh dan dipikul semua dong ..”

“Dulu aku juga diikutin langganan becak. Jadi becaknya jemputin anak-anak buat berangkat sekolah. Dan anak yang diangkut bisa sampe 8 atau 9 gitu. Penuh banget becaknya. Mana yang dilewatin itu tanjakannya ekstrim pulak. Kuat bener abang becaknya ..”

Iya, hampir punah karena sekarang ini sangat sulit menemukan jajanan murah namun berkualitas baik. Orang-orang muda yang masih segar bugar lebih memilih untuk menjadi pengemis, pengamen keliling, tanpa mau bekerja keras. Dan ibu-ibu jaman sekarang lebih memilih untuk mengantar sendiri anak-anaknya ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Entah karena alasan keamanan si anak, karena gengsi dengan tetangga, atau mungkin ada alasan lainnya.

Kalaupun ternyata alasannya adalah soal keamanan, saya rasa langkah ini malah kurang tepat. Nyatanya, ibu-ibu yang membawa motor sendiri justru bisa berpotensi lebih besar untuk membahayakan diri sendiri dan juga orang lain, termasuk sang anak yang diboncengnya. Karena sebagian besar dari ibu-ibu yang membawa motor sendiri ternyata sangat tidak paham tentang lalu lintas, dan tidak menyadari bahwa jalanan bukan hanya miliknya seorang.

Iya, saya setuju bahwa kaum lelaki pun banyak yang berkendara seenaknya. Tapi jika dibandingkan, kaum ibu-ibu jauh lebih sering melakukan manuver yang sangat membahayakan dibandingkan dengan pengendara lainnya. Tolong jangan tersinggung ya, saya hanya bicara tentang apa yang saya lihat. Mungkin di posting selanjutnya, saya akan coba untuk membuatkan panduan tentang berkendara yang baik dan benar untuk semua pengendara motor, khususnya ibu-ibu.

Oke, kita kembali lagi ke bahasan awal. Hal-hal seperti ini membuat saya berpikir. Bahwa alangkah baiknya jika salah satu dari kenangan-kenangan tadi, kita lestarikan kembali. Khususnya soal berlangganan becak untuk antar-jemput anak sekolah. Tentu saja jika kondisi sudah memungkinkan untuk bersekolah.

Karena selain memberikan rejeki kepada para pengayuh becak yang masih ada, hal ini bisa membuat jalanan jauh lebih aman. Karena akan lebih sedikit ibu-ibu yang berkeliaran di jalanan. Khususnya ketika jam antar dan jemput sekolah sudah tiba. Selain itu, dengan berkurangnya pengendara di jalanan, kemacetan pun bisa sedikit teratasi. Khususnya di area sekitar sekolah.

Keuntungan juga bisa dirasakan oleh ibu-ibu itu sendiri. Karena ia tak harus repot untuk dandan saat akan mengantar jemput sekolah, dan tidak perlu capek-capek kepanasan untuk mengendarai sepeda motor dalam perjalanan. Bukankah ini sebuah win-win solution?

Oke, bagi sebagian tempat yang jalanannya sudah terlalu padat, ini bukanlah sebuah solusi yang baik. Karena terkadang, becak dianggap sebagai salah satu biang kemacetan. Tapi di sini ide utamanya adalah tentang aktivitas antar jemput sekolah yang mungkin bisa dilakukan dalam satu kendaraan yang bisa memuat banyak siswa sekaligus demi mengurangi kepadatan lalu lintas.

Mas Pandu
Suka foto, tapi agak kurang narsis | Pengagum alam, tapi bukan alay | Also known as Mas Bocah